Thursday, May 19, 2011

Harta Diam dan Bergerak

Sesuatu yang bergerak cenderung baik. Sementara yang diam cenderung jelek. Badan kita menjadi sehat jika rajin berolahraga, sementara orang yang malas berolahraga berpotensi mengundang penyakit. Berolahraga artinya bergerak. Olahraga akan meningkatkan daya tahan tubuh, membakar lemak, dan meningkatkan metabolisme tubuh. Dengan demikian, tentu akan mengurangi resiko terserang penyakit.

Air yang mengalir adalah air yang baik. Sementara air yang diam, akan cepat kotor, terkena bakteri dan tentu menjadi sumber penyakit. Udara yang bergerak itu baik, sementara angin yang diam akan membuat ruangan menjadi pengap dan tentu tidak sehat.

Bagaimana dengan harta? Harta yang baik juga harta yang bergerak. Harta yang bergerak akan banyak membawa kemaslahatan. Sebagai contoh, jika harta digunakan untuk modal usaha tentu harta akan menjadi berkembang. Selain itu, harta yang digulirkan dalam ekonomi riil tentu akan memunculkan multiflier effect, diantaranya karena ada tenaga kerja yang terserap, maka akan bisa ‘menghidupi’ banyak orang. Harta yang dijadikan modal usaha, adalah harta yang bergerak. Contoh lain adalah harta yang disedekahkan atau diwakafkan. Dengan dinafkahkan di jalan Allah harta akan menjadi berkah, artinya terus bertambahnya kebaikan.

Allah swt menjamin, harta yang disedekahkan atau diwakafkan akan diganti dengan penggantian yang banyak dan melimpah. Logikanya sederhana, harta ibarat tubuh yang harus terus menerus dibersihkan. Badan yang sering dibersihkan, akan menjadikan tubuh menjadi sehat. Harta yang sering ‘dibersihkan’ akan membuat harta semakin sehat dan berkembang. Menyedekahkan harta artinya mengalirkan atau memindahkan hak milik. Itu artinya bergerak.

Maka, harta yang disedekahkan atau diwakafkan akan menjadikan harta semakin bertambah, sementara harta yang diam, lambat laun pasti akan habis. Sebagai contoh, seseorang yang mendepositokan uangnya di bank, memang akan mendapatkan bunga sebesar sekitar 7%. Bandingkan dengan angka inflasi yang rata-rata besarnya 12% pertahun. Itu artinya nilai uangnya berkurang 5% setiap tahun. Maka, orang yang mendepositokan uangnya, cepat atau lambat pasti akan habis. Terlebih, Allah swt telah mengharamkan riba.

Islam bahkan melarang menumpuk-numpuk harta hanya untuk kepentingannya saja. Harta yang ditumpuk adalah harta yang diam. Harta yang seperti itu samasekali tidak memiliki manfaat. Bahkan Allah swt mengecam dengan keras orang yang menyimpan harta yang tidak dinafkahkan di jalan Allah.

Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahanam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: ''Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.'' (QS At Taubah [9]; 34-35)

No comments: